Minggu, 12 Juni 2011

KETIKA LORENG TIDAK SANGGUP DI CEUNUET


Gaung syari’at islam dimulai sejak Presiden Abdurrahman Wahid melontarkan pernyataan di Eropa pada tahun 2000-an bahwa orang Aceh minta syari’at Islam bukan merdeka, sejak itulah, euphoria syari’at Islam melanda di Aceh. Razia di lancarkan dimana-mana. Yang kemudian berlanjut pada pengesahan Qanun tahun 2003 tentang hukuman cambuk. Ceunuet alias cambuk berlaku pada 3 pelanggaran yaitu judi (maisir), mabuk (khamar) dan berdua-duaan dengan lawan jenis (khalwat).
     Wujud pelaksanaan syari’at islam pertama di gelar  pada tanggal 24 juni 2005 di Bireun dengan mecambuk belasan penjudi. Hukuman pertama ini menarik perhatian dunia internasional karena pertama diadakan di Indonesia. Sejak itulah, nyaris setiap kabupaten di seluruh Aceh menggelar panggung cambuk kepada warga sipil yang melanggar tiga criminal.
     Pertanyaan menarik, apakah setiap muslim yang tinggal di Serambi Mekkah bakal terkena hukuman rotan ini??? Cambuk bersifat territorial dan personal. Maknanya hanya warga yang tinggal di Aceh dan ber KTP Islam yang boleh didaratkan cemeti sedangkan warga non muslim berhadapan dengan hukum nasional yakni ditahan di penjara.
     Begitupun kelompok baju loreng tidak terjangkau ayunan rotan. Bukan karena mereka memiliki bedil, granat, pistol atau tongkat komando. Tetapi karena kaum bersepatu lars merujuk pada undang – undang militer  yang dari struktur perundang-perundangan lebih tinggi dari qanun. Jadi secara hukum, jika mereka bersama warga tertangkap sedang mabuk,maka warga sipil berhadapan dengan algojo cambuk,, sedangkan kaum berbaju militer  diseret ke pengadilan militer. Padahal, bukan tidah mungkin penduduk ingin menyaksikan , mau baju hijau,baju coklat, gamis,jubah,sipil dan lain-lain sama di depan hukum. Yaitu sama-sama berdiri di pentas menerima hentakan ujung rotan sepanjang satu meter.
     Begitulah hikayat cambukdi Aceh . perangkat perda yang di gapit tidak bias menendang undang-undang yang kedudukan lebih tinggi.  Apakah ini yang di sebut keadilan dalam islam??? Rasulullah bersabda: “jika Fathimah mencuri,aku potong tangannya” secara simbolik Nabi Muhammad SAW menyatakan untuk mewujudkan keadilan, maka harus di mulai dari pihak yang berkuasa. Islam menjunjung tinggi keadilan, tidak ada Islam tanpa keadilan.
     Di sisi lain ada kegamangan di kalangan militer terhadap syari’at Islam. Misalnya mereka mewajibkan anggota nya memakai jilbab tanpa peduli muslim dan non muslim. Jilbab di kalangan mereka adalah seragam dengan tujuan menghormati perda. “Saya kaget menyaksikan seorang perempuan di sumpah dengan injil  di tangan kanan berfoto sambilmenganakan jilbab. Padahal ini bersinggungan dengan azaz personalitas dalam penerapan syariat islam di Aceh.” Kata pak Murizal Hamzah wartawan senior Tabloid Gema Baiturrahman.

oleh : indra cakradonya

Beach Lampuuk

Beaches in Aceh more good from the beach kuta-Bali, one of beautiful beach Lampuuk - Lhoknga - Aceh Besar, Aceh in the sand beach is also more and more fine white sand instead of chocolate and I kuta rough.

Before the earthquake and tsunami 26 December 2004, Beach Lampuuk object into one of the favorite tour of Aceh. Pine trees grow thick along the beach with the wind blowing a fresh coast. There are many places to eat fresh fish with the vendor that is ready and can be baked directly enjoyed by beach visitors.

Unlike the case after the tsunami occurred, this beach looks quiet, reserved and much less pine trees exposed to the tsunami. However, this beach at this time began to run again either by the government. At the end of the weekend or holiday that many visitors come to picnic. Special staff of the Non-Government Organization (NGO) international duty in Aceh, many of them with a picnic and sail surfing. In addition, information that needs to be known by the visitors is the forbidden zone for the swim event, because the vortex wave is too dangerous.

In the vicinity of the beach stands a majestic Andalas cement factory that had experienced severe damage due to earthquake and tsunami. Near the beach also seen a majestic white mosque - the only building that remains intact when the tsunami occurred in this area and has been determined by the local government as a monument tsunami tragedy. This mosque is one with a complex post-tsunami housing built Turkish government.

Lampuuk very beautiful beach with white sand. On this beach the tourists can swim, sunbathing, fishing, sailing, surfing, diving and other recreational activities. In the coastal area of Padang Golf Seulawah there with a background panorama of the sea. In the afternoon the beach is rather beautiful and full of charm. Visitors can watch the beautiful sunset, so do not give a pleasure to remember.

Lampuuk area is located in the west coast of Aceh on the tip of the island of Sumatra. He is in the District of Lhoknga, Aceh Besar regency. The location near the beach and can be Lhoknga through Banda Aceh - Calang (Aceh Jaya).

Distance of the beach location with the city of Banda Aceh, capital of Province approximately 20 km. City of Banda Aceh can be a private vehicle in less than 20 minutes. If increased public transport, the labi-labi (Car passenger transport) department in Banda Aceh-Lhoknga be approximately 35 minutes.

Before the tsunami price entrance ticket location U.S. $ 0.15 (Rp 1500) but at the time of this ticket price has not been known exactly.

To this time there is no accommodation in the vicinity of the beach. Different conditions before the tsunami with the many available cottage (the lodging) for the visitors.