Rabu, 17 Agustus 2011

Satu catatan Mewakili 1juta Kerinduan

________________________________________
Selamat malam sayang.
Apa kabar dirimu disana? Aku disini baik-baik saja, meskipun aku merasakan ada bagian yang hilang dari hidupku.
Jarak ribuan kilometer telah memisahkan kita selama beberapa bulan ini. Demi meraih cita-cita yang berbeda kita melangkah sendiri-sendiri lagi.
Terbesit dalam benakku tuk pergi ke kotamu,tp waktu tak mengijinkanku. Semakin lama aku disini, semakin kutenggelam dalam kewajibanku.

Sayang,apakah kau tahu isi hatiku?
Aku..
Aku rindu akan dirimu, senyummu,canda tawamu. Kurindukan kebersamaan kita dulu, saat-saat bersamamu itu selalu kukenang. Tingkah laku kita dimasa lalu yang kini kusimpan selalu kujadikan obat rinduku.. Disini aku hanya bisa mendengar suaramu, melihat lembar demi lembar fotomu dan memimpikanmu. Aku merindukanmu sayang.
Kutitipkan sejuta kerinduan dan kasih sayang yang menggunung untuk dirimu,kekasih hatiku.



Salam sayang
kekasihmu.. Indra "cakradonya" Angkasah

Bek karu sama si bansa.

oleh Yusuf Djalil Peureulak pada 25 Juli 2011 jam 14:32

Asslamualaikum keumandum rakan.
Ka akhe syakban keuneuk puasa.
Nyang toke2 siboek konwayang.
Cok keusimpulan leumo geumita.

Leumo geusie uroe makmeugang.
Kon piasan keubit nyoe nyata.
Kon loen peugah loen karang2.
Keubit nyoe rakan ata katrep na.

Nyang na peng aneuk pih seunang.
Meuleumpah sayang aneuk hana ma.
Ma nyang taguen mangat kon wayang.
Meubayang-bayang di roe ie mata.

Nyang hana ayah pih leumpah sayang.
Karap mameugang ayah geubungka.
Meuleumpah seudeh wate loen bayang.
Bansa loen tuan sabe meurana.

Bak gara-gara piasan malam.
Kajeuet keulawan wahai chedara.
Kon dawa mantong wahe e rakan.
Meu suet2 parang di teungoh kota.

Ban tabaca ka nibak koran.
Ka meutimphan di matang glp dua.
Peujeuet di timbak gopnyan hai rakan ?.
Puegara utang jawoeng di hila ? .

Pue di timbak gara2 utang ? .
Atau hai rakan reuboet kuasa ? .
Meunyoe salah peu ek peungadilan.
Tangieng di sinan soe tamong peunjara.

Meunyoe naggroe kana hukoem.
Meunuroet uloen meunan cara.
Meunyoe nanggroe hana hukoem.
Soe nyang tiga tum,nyan nyang kuasa.

Hana loen tukri hana loen paban.
Hana soe tujan wahe chedara.
Kadang loen singoh ka di hantam.
Preh giliran oh troek bak masa.

Katrep di ranto meu chen keurakan.
Hawa loen tuan sawue chedara.
Mungken nyoe wate dicok keusempatan.
Di tum loen tuan ajai pih teuka.

Hana loen teupue kadang na dendam.
Seubab loen tuan aceh merdeka.
Ngon peunjajah mudah loen meucang.
Kameuri lawan kameuri muka.

Ngon munafik nyang hek loen tuan.
Loen pike rakan padahai biek beulanda.
Nyoe nyang susah rakan loen sayang.
Meuban ta meucang ka ngon chedara.

Beu ta turi nyang toh rakan.
Sigoh ta meucang bek rugoe teuma.
Keupue lom teulah oh lheuh ta meucang.
Kalheuh keujadian jeubok chedara.

Musoeh aceh di khem meukhah-khah.
Lheuh nyan di peugah kita damai saja.
UUPA jawa karta nyang peusah.
Lheuh nyan di tamah ka deungon MK.

Sinan kueh punca rakan meutuah.
Bek peusalah rakan sebansa.
Jeh jawa karta nyang jeulaih salah.
UUPA sah keupue lom MK.

Beuneutupue politek peunjajah.
Di khem meukhah-khah di jawa karta.
Parpol dan DPRA ka sapue peugah.
Alamat salah wahai chedara.

Kon Irwandi nyang ta peusalah.
Nyang peureule bantah jawa karta.
UUPA kalheuh di peusah.
Keupue di tamah nyan MK.

Meunyoe hana MK cit hana karu.
Meunan teungku nyang loen peumulia.
Na MK Independen raya su.
Kana UU rot peugah haba.

Nyang hana perte teuntee di meusu.
Hana rot tuju pangku kuasa.
Rot Independen teuntee di meusu.
Kana rot tuju neuk mat kuasa.

Politek aceh memang that karu.
Meumacam lagu di peugah haba.
Rakyat pileh keudroe wate peumilu.
Di sinan ta eu soe rakyat suka.

Na Independen saban cit teungku.
Hana pue karu teutap Indonesia.
Oh noe dilee meu'ah loen teungku.
Bek karu-karu aceh mulia.

ATJEH,MALAYA DAN INDONESIA


Aceh Laksana seorang gadis rupawan yang menjadi incaran banyak pemuda sejak dahulu kala. Walaupun telah lama dipinang oleh lelaki yang bernama Indonesia. Namun jalinan kasih indah yang pernah terjalin dengan Malaysia, ternyata tidak mudah untuk dilupakan hingga kini.

Umpama tersebut tidaklah berlebihan untuk di sanding dengan kondisi Provinsi Aceh hari ini. Panorama alam yang indah, adat istiadat dan budaya islam yang kental serta Sumber Daya Alam yang berlimpah ruah telah menyebabkan daerah ini menjadi rebutan dari dahulu kala.

Dalam rentetan sejarah, Hanya Malaya (Malaysia-red) yang sempat memiliki kisah kasih yang indah dengan Aceh. Sedangkan saat Aceh ’dekat’ dengan 'pria berambut pirang' (Belanda-red) antara 1873 hingga 1904, dan ’pria bermata sipit’ (Jepang-red) sekitar tahun 1942, hingga dipinang karena termakan janji dan rayuan seorang Pria bernama Indonesia, Aceh justru banyak menderita. Penderitaan demi penderitaan, penghianatan hingga Kekerasan harus di lalui Aceh dalam kesendiriannya.

Cinta Aceh antara Malaysia, awalnya diperkirakan mulai pada abad ke-16 setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Sebenarnya, bagi orang Aceh, negeri Melaka (Malaysia-red) tidaklah asing. Kerajaan Aceh Darussalam bahkan pernah terlibat perang dengan Portugis selama 130 tahun (1511-1641) hanya untuk membebaskan daerah tersebut dari jajahan Portugis.

Menurut sejarah Malem Dagang, Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dengan armada Cakra Donya-nya berhasil membebaskan Sumatra dan Semenanjung tanah Melayu dari penjajahan Portugis dan menjadi bagian dari kerajaan Aceh. Laksamana Malem Dagang berhasil mempersatukan wilayah Sumatra dan Semenanjung tanah Melayu.

Dari peristiwa tersebutlah kemudian tercipta hubungan harmonis antara Aceh dengan Malaysia, baik pertukaran etnis hingga budaya. Hingga saat ini, ada banyak etnis melayu yang tersebar di Aceh, demikian juga sebaliknya. Hubungan ini sedikit rengang ketika Belanda dengan politik adu dombanya menancapkan ’kuku’ di Aceh. Namun hal ini tidak mampu memudarkan cinta kasih Aceh dengan Malaysia.

Sedangkan kisah Aceh dengan Belanda terjalin Pada tanggal 26 Maret 1873. Saat itu, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.

Sekitar 8 April 1873, pasukan Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Jendral Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para Perwira.

Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1904. Kesultanan Aceh menyerah pada 1904, tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut. Dengan kata lain, dengan rentan konflik yang lama tersebut, tidak ada masyarakat Aceh yang hidup saat itu, mengaku senang atas kehadiran ’pria berambut pirang’ tersebut.

Terakhir, Aceh juga sempat berkenalan dengan ’pria sipit’ dari Jepang. Menurut berbagai sumber, pada tanggal 12 maret 1942, pasukan tentara Jepang mendarat pertama kali di pantai Kuala Bugak Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur, selanjutnya menyebar seluruh penjuru Aceh Timur dan daerah sekitarnya.

Masa jalinan Cinta dengan Jepang walaupun tidak berlangsung lama namun membawa akibat penderitaan yang cukup memprihatinkan, seluruh rakyat hidup dalam kondisi kurang pangan dan sandang disertai dengan perlakuan kasar dari bala tentara Jepang terhadap rakyat yang tidak manusiawi, akibatnya timbullah perlawanan/pemberontakan rakyat.
Setelah Hirosima dan Nagasaki (kota di Jepang-red) di bom atom oleh pasukan sekutu pimpinan Amerika pada tanggal 10 Agustus 1945, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat. Kemudian, setahap demi setahap mereka meninggalkan Aceh. Masa-masa inilah Aceh menjalin cinta kasih dengan Indonesia, hingga akhirnya menerima lamaran dan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tetapi, diluar pembahasan tersebut, menurut pandangan penulis, Indonesia masih seringkan kali ’cemburu’ ketika membahas persoalan Aceh dan Malaysia. Pasalnya, dalam sejumlah kasus, seperti ide meng-gonyang-ganyang Malaysia yang dikobarkan Presiden Sukarno dan isu ’mencuri’ budaya yang sempat terjadi di tanah air, justru ditanggapi dingin oleh rakyat Aceh. Hal inilah yang perlu dibahas secara lebih detail sehingga tahu akal persoalan yang terjadi.

Faktor kedekatan sejarah yang panjang dinilai telah menyebabkan mayoritas masyarakat Aceh mencintai negara jiran Malaysia, dan begitu juga sebaliknya. Sikap romantis antara masyarakat Aceh dan masyarakat Malaysia dianggap juga tidak pernah luntur walaupun pemerintah dari kedua negara ini sedang terlibat ‘perang dingin’.

Hal ini terungkap dalam seminar sehari sejarah antar bangsa dengan tema hubungan Aceh dan Keudah dan lintasan sejarah yang dilaksanakan oleh Program Studi (Prodi) Sejarah FKIP Unsyiah, di Ruang Auditórium setempat, beberapa waktu lalu.

Seminar ini dikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai kampus. Hadir juga pemateri dalam seminar tersebut adalah Prof. Madya dr. Mohd. Isa bin Othman, dari Majlis Kebudayaan Negeri Keudah, Malaysia dan Dato’ Dr. Haji Wan Shamsudin Bin Mohd. Yusuf , Sejarawan Malaysia. Sedangkan untuk pemateri lokal, hadir Drs. Mawardi Umar, M. Hum, dr. Husaini ibrahim , MA, dari Prodi FKIP Sejarah Unsyiah.

Saat ide ganyang Malaysia yang dicetuskan oleh Presiden Sukarno pada 3 Mei 1964, seluruh rakyat di Indonesia panas, kecuali Aceh. Demikian juga dengan ide ganyang Malaysia yang dikobarkan pada pertengahan 2010 lalu, seluruh daerah di Indonesia lagi-lagi menjadi Panas, kecuali Aceh. Ini membuktikan betapa dekatnya emosional Aceh dengan Malaysia,” ungkap Rektor Unsyiah, Prof. Darni M. Daud, saat membuka acara.
Menurutnya, kedekatan Aceh dan Malaysia terjadi karena memiliki sejumlah kesamaan, baik dalam hal kebudayaan, agama serta intelektual. Kedekatan ini semakin dieratkan dengan ada penaklukan Kerajaan Keudah, Malaysia oleh Sultan Iskandar Muda dari Aceh.

Kesamaan-kesamaan inilah yang membuat mayoritas dari orang Aceh begitu dekat dengan Malaysia,”tandasnya.

Sementara itu, Prof. Madya dr. Mohd. Isa bin Othman, yang dihadirkan sebagai pemateri dari Majlis Kebudayaan Negeri Keudah, Malaysia menambahkan bahwa hubungan Aceh dan Malaysia sudah terjalin begitu erat dan terbina Sejak lama. Bahkan, sejumlah nama daerah di Malaysia menggunakan nama Aceh, demikian sebaliknya.

Ada daerah di Malaysia yang bernama Gampong Aceh, demikian juga ada Desa Keudah di daerah Aceh. Kesamaan ini bukan terbentuk karena sendirinya, melainkan karena hubungan sejarah yang panjang,”tandas dia.

Diluar seminar tersebut, menurut berbagai sumber, keturunan Aceh berdiam di sekitar Pulang Pinang, Kedah dan Perak. Mayoritas dari warga ini, disinyalir juga masih mengajarkan bahasa dan adat istiadat Aceh kepada para generasi muda mereka.

Keturunan Aceh ini juga dilaporkan menguasai hampir sebahagian besar sektor-sektor perekonomian di Malaysia. ”Rata-rata toko kelontong di Malaysia dikuasai oleh masyarakat Aceh. Ini sebabnya masyarakat Aceh memegang peranan yang Sangat penting di Malaysia hingga kini,” ungkap Maimun Lukman, 28, Dosen FKIP PPKN Unsyiah yang sempat menempuh pendidikan magíster di negeri jiran Malaysia.

Tidak hanya itu, lanjut dia, sejumlah pejabat penting di Malaysia saat ini juga merupakan keturunan asli Aceh. Namun karena telah lama berdiam diri di negeri jiran tersebut serta mengubah status kewarganegaraannya, mereka akhirnya memperoleh kepercayaan untuk menduduki jabatan tinggi.

Tetapi, para keturunan Aceh di Malaysia tetap menjalin hubungan baik dengan para pendatang baru dari Aceh. Bahkan, masyarakat Aceh yang terlibat kasus hukum di Malaysia karena menjual ganja, tetap diberikan keringan hukuman,” jelas Maimum.

Salah satu warga keturunan Aceh yang tenar di Malaysia adalah Seniman kondang P. Ramlee. Dia lahir Desa Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe yang kemudian tenar di Malaysia. Sebenarnya, ada belasan pejabat lainnya di Malaysia, namun sulit untuk melancaknya satu persatu.

Keterikatan Aceh dengan Malaysia tidak hanya terasa di negeri jiran, tetapi juga di Aceh sendiri. Sebagai contoh, saat berlangsungnya final piala AFF Asia Tenggara, antara Malaysia dengan Indonesia, hati masyarakat Aceh justru mendua. Tidak sedikit masyarakat Aceh yang mendukung Malaysia, yang seharusnya adalah musuh dari Timnas Indonesia. Hal ini menandakan adanya keterikatan batin antara Aceh dengan Malaysia hingga kini.

Para pemimpin kita saat ini sebenarnya sangat sadar akan hal ini. Namun selama kedekatan ini dinilai tidak membawa kemudhratan bagi kesatuan negeri, maka dianggap adalah hal yang wajar.

Mesranya hubungan Aceh dengan Malaysia adalah romatisme masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran penting bagi bangsa kita saat ini. Dimana, Malaysia yang sebelumnya adalah bagian dari kerajaan Aceh ternyata mampu berkembang jauh lebih maju dari induknya sendiri.

Sedangkan membandingkan daerah Aceh dengan Negara Malaysia saat ini bagaikan membandingkan langit dan bumi. Antara kedua daerah ini, terdapat sejumlah kesenjangan yang sangat jauh berbeda sehingga sulit bagi para pemimpin kita untuk saat ini untuk mengatakan bahwa Malaya pernah menjadi bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Namun bukanlah hal yang musthahil untuk membangun Aceh hari ini sejajar dengan Negara Malaysia di masa yang akan datang. Paling tidak, dibutuhkan ketekunan dan keikhlasan yang lebih dari para pemimpin kita untuk segera berbenah setelah 31 tahun dilanda konflik.

Sejarah telah mencatat bahwa Aceh yang dahulu telah mampu menunjukan jati dirinya pada dunia dengan wilayah kekuasaan hingga ke Malaya. Disaat zaman masih serba sederhana, Kerajaan Aceh justru telah mampu berbicara banyak dengan menunjukan kepiawaiannya dalam menguasai Asia Tenggara.

Sejarah kemegahan Kerajaan Aceh dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda seharusnya menjadi pacuan semangat yang lebih bagi pemimpin Aceh hari ini untuk melakukan hal yang serupa untuk Aceh kedepan. Jika dulu bisa, kenapa saat itu tidak. Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh generasi muda Aceh hari ini dalam membangun bangsanya.
acehinstitute.org

Selasa, 16 Agustus 2011

BUKTI PENGKHIANATAN MALEK MAHMUD DAN ZAINI ABDULLAH CS.TERHADAP WALI


STATUS ACHEH DALAM NKRI* Penulis Yusra Habib abdul Gani.Dan sebelumnya saya
minta maaf kana saya ingin menulis sedikit isi buku tersebut,tentang bagai mana saat saat penandatanganan MoU,karna kami di dalam nanggro masih banyak yang belum tau tentang cerita tersebut,mulai halaman,129, 130,131,132, 133,yang isinya sebagai berikut : Yang membuktikan bahwa Tengku Hasan di Tiro memang benar benar ditipu oleh staff terdekatnya. Itupun,setelah Fadlon Musa ( salah satu anggota GAM di Belanda )mendapat teks MoU Helsinki dari Arif Fadilah (salah seorang anggota GAM di Jerman )pada tgl.6 Agustus 2005.Arif Fadilah sendiri memperolehnya dari Teuku Hadi ( salah seorang anggota GAM di Jerman ) yang ikut magang beberapa kali ke Helsiki. Setelah membaca teks MoU Helsinki,Fadlon terkejut dengan kalimat :” The parties commit themselves creating within which the government of the Acehnese people can be manifested through a fair and democratic processs within the unitary state and constituion of the Republic of Indonesia “.Sehubungan dengan itu,Fadlon segera menghubungi Tengku Hasan di tiro via tlp.pada 7 Agustus 2005,jam 19:30 waktu Eropah.
FADLON MUSA : Assalamu’alaikum,
Tengku TENGKU HASAN M.DI TIRO : Wa’alaikum salam
FADLON MUSA : Saya mau tanya sedikit : “Apakah tengku sudah membaca teks asli ( original ) MoU Helsinki yang yang akan ditandatangani pada 15 Agustus 2005 nanti ?
TENGKU HASAN M.DI TIRO : Belum
TENGKU HASAN M.DI TIRO : Boleh saya mendapatkan teks asli itu ?
FADLON MUSA : Tentu saja tengku
Segera setelah dialog itu,Fadlon musa minta tolong kepada tengku Abdullah Ilyas untuk mengirimkan via fax ke nomor 0046-853191275. Teks MoU Helsinki akhirnya berada di tangan Tengku Hasan M.di Tiro.
Pada hari yang sama pula,Fadlon musa menghubungi Zakaria Saman,Muzakkir Manaf dan Sofya Daud via tlp. prihal isi MoU Helsinki.Inilah diantara petikan pembicaraan antara
Fadlon Musa dengan Muzakkir Manaf.
FADLON MUSA : Apakah panglima sudah diberitahu oleh pimpinan dari Swedia tentang isi MoU Helsinki ?
MUZAKKIR MANAF : Belum
FADLON MUSA : Kita telah terjebak kedalam NKRI
MUZAKKIR MANAF : Apa benar itu ?
FADLON MUSA : Kalau tidak percaya saya baca terjemahannya dalam bahasa Acheh
MUZAKKIR MANAF : Rahasia ini jangan sampai bocor kepada khalayak ramai.Kita akan konfirmasi ke Swedia.
FADLON MUSA : SilakanDalam kesempatan itu,Fadlon juga berbincang dengan Sofyan Daud Dan Zakarya Saman tentang MoU Helsinki.
Akhirnya ketiga tokoh penting GAM berkomentar : “Kita akan konfirmasi dan perkara ini urusan pemimpin Swedia”.
Keesokan harinya,Tengku Malek Mahmud dan Zaini Abdullah dipanggil Tengku Hasan M di Tiro untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dalam pertemuan yang berlangsung tegang itu,keduanya ( Tengku Malek Mahmud dan Tengku Zaini Abdullah ) berhasil menjinakkan kemarahan Tengku Hasan M.di Tiro sehingga suasana dapat terkontrol kembali. Bakhtiar Abdullah,yang ketika itu berada di kuala Lumpur,yang menurut rencana akan menghadiri Rapat pembubaran TNA pada 9 Agustus 2005,terpaksa pulang ke Swedia pada 8 Agustus 2005. Sudah tentu kepulangan yang mendadak ini berhubungan dengan teks MoU Helsinki. Pada waktu itu ( 7-8 Agustus 2005 ) di Malaysia,tengah berlangsung suatu seminar yang membahas tentang Acheh.
Dalam seminar ini Prof.Ramasari (salah seorang penasehat GAM ) menyampaikan khutbah politiknya di hadapan ratusan anggota GAM sbb : “Apa yang hendak di harap GAM di dalam negeri ? kekuatan TNA sudah lumpuh.
Apa yang hendak di harapkan oleh GAM di luar negeri ?Diplomasi GAM kosong melompong.Sekarang satu satunya pilihan anda adalah menerima konsep self-government. Nanti kalau anda sudah ada dana untuk beli senjata dan mau berperang lagi.angkat senjata.” Beberapa bulan sebelumnya,telah berlangsung
pertemuan tertutup antara Nur Juli,Fadlon musa dan Abdullah Ilyas dengan tuan Roslan Abd.Rahman ( Intelijen Kerajaan Malaysia di Den haaq,Belanda )” Pertemuan berlangsung pada 13 Februari 2005,jam 20.15-22.110 di Restauran Raden Mas,Rotterdam. Dalam kesempatan itu, Nur Juli telah menceritakan panjang lebar tentang materi rundingan di Helsinki.Padahal ini rahasia negara.Setelah membeberkan rahasia itu,Nur Juli mengaku : ‘ Saya bukan anggota GAM dan tidak pernah bersumpah setia ( bai`at ) kepada Hasan Tiro
sebagai pemimpin.Kehadiran saya ke Helsinki hanyalah atas permintaan pimpinan GAM.’ Atas prilaku Nur juli,terjadi cek cok dan pertengkaran antara Nur juli dengan Fadlon dan Abdullah Ilyas,karna Nur juli dinilai telah membeberkan rahasia negara Acheh. Pertemuan ke dua antara Nur Juli, Fadlon Musa dan Abdullah Ilyas berlangsung di rumah kediman Tuan Roslan Abd.Rahman,Pada 1 Maret 2005,jam 19.35-23.20. ” dalam pertemuan ini Nur juli sekali lagi membongkar rahasia TNA : ‘Sekarang TNA di dalam dan di luar negeri tidak ada apa apanya lagi.TNA berada dalam kedaan kritikal,tidak ada kekuatan dan sudah lumpuh sama sekali’.Penjelasan Nur juli langsung di bantah oleh Abdullah Ilyas di depan Intel Kerajaan Malaysia itu.Pertengkaran antara Nur juli dengan Abdullah Ilyas dan Fadlon berlangsung sengit dan segera di laporkan ke pada pemimpinan GAM Swedia tentang peristiwa itu’.
Rentetan peristiwa tersebut merupakan fakta yang menghiasi halaman halaman sejarah Acheh dan siapapun juga tidak berhak menyembunyikannya. Akhirnya ditandatangani juga Perjanjian Helsinki pada 15 Agustus 2005. Setelah selesai Upacara penandatanganan, ke-esokan harinya,16 Agustus 2005,giliran Yusra Habib Abdul Gani menghubungi Tengku Hasan di Tiro via tlp.
YUSRA : Apakah Tengku sudah membaca teks asli MoU Helsinki yang di tandatangani kemaren ?
TENGKU HASAN DI TIRO : Sudah Yusra.
YUSRA : Namun begitu, saya bacakan sekali lagi preambule dan pasal 1 MoU ini dalam versi bahasa Inggris.
YUSRA : Apakah Wali sudah menerima sepenuh hati bunyi klausal MoU Helsenki ini.
TENGKU HASAN DI TIRO : Bukan begitu Yusra,bukan begitu, Yusra,sekarang, apa yang boleh Yusra bantu untuk rakyat Acheh ?
YUSRA : Pertayaan Tengku perkara nomor dua. Sekarang, apakah Wali menerima bunyi klausal MoU Helsinki ini yang baru saja saya baca tadi ?
TENGKU HASA DI TIRO : Bukan begitu Yusra,bukan begitu,Yusra.
Akhirnya sepakat menghentikan pembicaraan, demi mengelak hal yang tidak diinginkan.
Menjelang tiga tahun kemudian,terjadi pembicaraan antara Tengku Hasan M.di Tiro dan Ampon Sarung*pada minggu pertama Maret 2008, [ *Ampon Sarung adalah menantu dari kakak Tengku Hasan di Tiro satu Ayah lain ibu.Sekarang menetap di Norsborg,Swedia. ]Pembicaraan tersebut sbb : AMPON SARUNG : ” Saya ingin menyampaikan informasi penting kepada Tengku bahwa : Inilah perang orang yang paling munafiq,busuk dan jahat dalam sejarah perang Acheh.Tengku telah memberi kuasa penuh kepada orang munafiq dan pengkhianat, yakni : Malik Mahmud dan Zaini Abdullah Cs.kuasa tersebut telah di salah gunakan oleh mereka untuk terima Otonomi Acheh dalam MoU Helsinki”
TENGKU HASAN M.DI TIRO : Sambil menangis tersedu-sedu berkata :” Kalau begitu,apa yang harus saya lakukan sekarang Ampon ?”
AMPON SARONG : “Tengku mesti membersihkan nama baik.Katakan kepada Bangsa Acheh bahwasanya Tengku telah silap memberi kuasa kepada orang munafiq dan pengkhianat, yakni : Malik – Mahmud dan Zaini Abdullah Cs.Untuk itu,Tengku dengan didampingi oleh Musanna Abdul Wahab*mesti pulang ke Acheh.Bangsa Acheh telah menunggu kepulangan Tengku untuk menjelaskan perkara ini.”
Musanna Abdul Wahab adalah keponakan Tengku Hasan M.di Tiro. Sekarang menetap di Amerika. Untuk tidak menimbulkan fitnah di kemudian hari,saya telah meminta izin kepada Ampon Sarung untuk mengutip hasil pembicaraan tersebut dalam buku ini [ pada : tgl.14.April 2008,jam 9.30-10.00 waktu Eropa ] ” Silakan dimuat Yusra “Kata beliau. Inilah sebagain kecil dari isi buku’STATUS ACHEH DALAM NKRI’Agar kita yang di nanggro tidak tertipu dengan sandiwara Malek Mahmud dan Zaini Abdullah

oleh:Darah Aceh, pada 16/08/2011 - 15:05

dikutip:http://harian-aceh.com/2011/08/16/peringatan-damai-aceh-minim-peserta#comment-8200

ATJEH DALAM LINTAS SEJARAH

ACEH Dalam Lintasan Sejarah


Aceh, sebuah province di ujung barat pulau sumatra terletak di wilayah selat malaka dan merupakan wilayah terakhir yang ditaklukkan oleh Kompeni Hindia Belanda. Sejak 14 Maret 1876 Kerajaan Aceh runtuh, namun secara umum rakyat Aceh tidaklah menyerah kepada kepada penguasa Belanda saat itu. Selama kurun waktu itu sampai tahun 1942, Belanda menyerah kepada pasukan Nippon Jepang dan Aceh menjadi wilayah penjajah Jepang bersama wilayah nusantara lainnya sampai Jepang kalah perang di Asia Fasifik tahun 1945 dari Pasukan sekutu pimpinan Amerika dan Inggris.


Aceh, sejak saat itu menjadi daerah yang kehilangan identitas; kembali ke format kerajaan atau bergabung dengan republik Nusantara. Adalah sejarah juga yang kemudian Aceh ikut berikrar bergabung menjadi bagian dari republik. Hal ini tidak terlepas dari betapa "rasa nasionalisme" ke Islaman rakyat Aceh dengan nasib yang sama dialami oleh bangsa Nusantara yang notabene-nya juga adalah Muslim. Mungkin sejarah akan berbeda jika saudara nusantara laiinya berbeda agama dengan rakyat aceh saat itu (seperti halnya India dan Pakistan yang menjadi dua negara dalam satu jajahan inggris).


Rasa nasionalisme itu kemudian Aceh menjadi salah satu province republik, setalah Aceh menjadi modal kemerdekaan republik dengan memberikan hibah Pesawat RI-1 untuk upaya deplomasi di luar negeri. Namun kemudian Aceh sendiri dihabus dari provinsi menjadi daerah residen yang merupakan bagian dari Sumatra Utara. Rasa kekecewaan rakyat Aceh kemudian menjadi suatu pemberontakan, Tahun 1956 adalah awal negara Republik ini mengobarkan perang terhadap rakyat pemodal kemerdekaan. ribuan nyawa melayang, ketakutan ditebakan. tentara "baroeh" (pasukan TNI) mencari dan menghancurkan semua anak negari yang dicurigai sebagai pengikut Tgk.Daud Bereueh (Pemimpin DI/TII) Aceh.


Perang ini berakhir dengan janji manis Jakarta bahwa Aceh diberi tiga istimewa, dalam hal agama, pendidikan dan budaya. dan Tgk.Daud Bereueh yang berperan besar dalam pembelian pesawat RI pun menjadi tahanan rumah sampai beliau meninggal dunia.


Tahun 1975 Jakarta melakukan eksplorasi Gas dan Minyak secara besar - besaran di Aceh, sementara rakyat miskin, pendidikan yang tidak layak, serta pemulihan terhadap rakyat korban perang tidak dipulihkan mengakibatkan pemberontakan jilid II. Tahun 1976 Gerakan Aceh Merdekapun di deklarasikan di Gunung Halimon Pidie. Ratusan ribu nyawa hilang dan jutaan rakyat aceh harus hidup dibawah bayang bayang ketakutan. setiap pagi mayat dilempar di depan toko-toko di Ulee Glee Pidie Jaya saat itu, mereka di bunuh secara keji oleh pasukan-pasukan syeitan. Rumah-rumah konsentrasi penyiksaan didirikan. Rumah geudong, sebuah rumah peninggalan Ule Balang di Pidie, menjadi bukti kekejaman Negeri republik terhdap rakyat Aceh, siapapun yang dicurigai atau yang dikehendaki.


Selam 30 tahun lebih ketakutan Rakyat menjadi hal yang dianggap sebuah pembenaran atas nama Pemujaan terhadap NKRI. Sampai akhirnya Bencana Tsunami 26 Dec 2004 Menghancurkan dan memporak-porandakan Aceh. lebih dari 200 ribu orang mati dan ribuan lainnya hilang tak teridentifikasikan.


Duniapun terpana, ribuan lembaga dan ratusan negara luar datang membantu Aceh, Republik hanya terpana, bahkan katanya hanya puluhan saja yang meninggal. Namun hal itu terbantahkan oleh berita-berita dari luar negeri. Tsunami menjadi klimak dari bencana kemanusiaan setelah pulahan tahun sebelumnya berada dalam ketakutan dan ketertutupan.


Tuhan pun menetuk hati meraka. Tgl 15 August 2005, Perjanjian damaipun ditandatangadi. menjadi sejarah panjang perjalanan Aceh menjadi daerah yang penuh dengan konflik dan ketulusan. Paling tidak Bencana Tsunami telah membawa rasa damai bagi rakyat Aceh dalam beberapa tahun belakang ini. Sebuah komitmen yang harus di jaga dan dipelihara bersama atas nama kemanusiaan, semoga perdamaian ini akan terus berlangsung sampai dunia ini tiada lagi..
 
oleh: indra cakradonya.

Senin, 15 Agustus 2011

Qanun Meukuta ALam Al-Asyi

Qanun Al-Asyi yang disebut juga Meukuta Alam. Oleh para ahli sejarah dikatakan amat sempurna menurut ukuran zamannya. Hal ini menyebabkan Qanun Al-Asyi dipakai menjadi pedoman oleh Kerajaan-Kerajaan Islam lainnya di Asia Tenggara. Dalam hal ini, H. Muhammad Said, seorang ahli sejarah, menulis beberapa peraturan disempurnakan.


Oleh karena kemasyhuran perundang-un­dangan Kerajaan Islam Aceh masa itu, banyak negeri tetangga yang melakukan copy paste peraturan hukum Aceh untuk negerinya. Di antaranya, India, Arab, Turki, Mesir, Belanda, Inggris, Portugis, Spanyol, dan Tiongkok. Hal ini terutama karena peraturan itu berunsur ke­pribadian yang dapat dijiwai sepenuhnya oleh hukum-hukum agama. Jadi, adat Meukuta Alam adalah adat yang bersendi Syara’.

Haji Muhammad selanjutnya menulis “… Sebuah kerajaan yang jaya masa lampau di Kalimantan, yang bernama Brunei (sekarang Kerajaan Brunei Darussalam), ketika diperintah oleh seorang sul­tan bernama Sultan Hasan, merupakan seorang keras pemeluk Islam setia. Dia telah mengam­bil pedoman-pedoman untuk peraturan ne­gerinya dengan berterus terang mengatakan mengambil teladan Undang-Undang Mahkota Alam Aceh.” Hal ini suatu bukti kemasyuran dan nilai tinggi Negeri Aceh yang sudah dimaklumi orang masa itu.

Salah satu alat kelengkapannya yang amat penting adalah Qanun Al-Asyi atau Undang-Undang Dasar Kerajaan. Pedoman yang dipakai berupa sebuah naskah tua yang berasal dari Said Abdullah, seorang teungku di Meulek.

Sulthan Alaiddin Ali Mughaiyat Syah dicatat dalam sejarah sebagai Pembangun Kerajaan Aceh Darussalam, dan Sulthan Alaiddin Riayat Syah II Abdul Qahhar Pembina Organisasi Kerajaan dengan menyusun undang-undang dasar negara yang diberi nama Kanun Al Asyi, yang kemudian oleh Sulthan Iskandar Muda Kanun Al Asyi ini disempurnakannya menjadi Kanun Meukuta Alam.

Dengan adanya undang-undang dasar yang bernama Kanun Meukuta Alam ini. maka Kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri atas satu landasan yang teratur dan kuat. Dalam hal ini ,Sulthan Iskandar Muda telah berbuat banyak sekali dalam menyempurnakan Kanun Meukuta Alam. Adapun organisasi dari Kerajaan Aceh Darussalam seperti yang tersebut dalam Kanun Meukuta Alam, adalah sebagai berikut:

Dasar dan Bentuk Negara

Dalam Kanun Meukuta Alam ditetapkan, bahwa dasar Kerajaan Aceh Darussalam yaitu Islam dan bentuknya kerajaan, yang dengan ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut;
  1. Negara berbentuk kerajaan, di mana Kepala Negara bergelar Sulthan yang diangkat turun temurun. Dalam keadaan dari keturunan tertentu tidak ada yang memenuhi syarat-syarat, boleh diangkat dari bukan turunan raja.
  2. Kerajaan bernama Kerajaan Aceh Darussalam, dengan Ibukota Negara Bandar Aceh Darussalam.
  3. Kepala Negara disebut Sulthan Imam Adil, yang dibantu oleh Sekretaris Negara yang bergelar Rama Setia Keurukon Katibul Muluk.
  4. Orang kedua dalam kerajaan, yaitu Qadli Malikul Adil, dengan empat orang pembantunya yang bergelar Mufti Empat.
  5. Untuk membantu sulthan dalam menjalankan pemerintahan, kanun menetapkan beberapa pejabat tinggi yang bergelar Wazir (Perdana Menteri dan Menteri-Menteri).

Rukun Kerajaan

Kanun menetapkan empat Rukun Kerajaan, yaitu:
  • Pedang Keadilan ; Jika tiada pedang, maka tidak ada kerajaan.
  • Qalam ; Jika tidak ada kitab undang-undang, tidak ada kerajaan.
  • Ilmu ; Jika tidak mengetahui ilmu dunia-akhirat, tidak bisa mengatur kerajaan.
  • Kalam ; Jika tidak ada bahasa, maka tidak bisa berdiri kerajaan.

Untuk dapat terlaksana keempat rukun tersebut dalam kerajaan, maka kanun menetapkan empat syarat, yaitu:
  • Ilmu yang bisa memegang pedang,
  • Ilmu yang bisa menulis.
  • Ilmu yang bisa mengetahui mengatur dan menyusun negeri.
  • Ilmu bahasa.

Negara Hukum

Dalam kanun ditetapkan, bahwa Kerajaan Aceh Darussalam adalah Negara Hukum yang mutlak sah, dan rakyat bukan patung yang terdiri ditengah padang, akan tetapi rakyat seperti pedang sembilan mata yang amat tajam, lagi besar matanya, lagi panjang sampai ke timur dan ke barat."

Sumber Hukum

Kanun menetapkan bahwa sumber hukum bagi Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu:
  • Al Quran.
  • Al Hadis.
  • Ijmak Ulama.
  • Qias.

Cap Sikureueng

Dalam kanun ditetapkan, bahwa cap (setempel) negara yang tertinggi, yaitu Cap Sikureueng (Setempel Sembilan), berbentuk bundar bertunjung keliling, ditengah-tengah nama sulthan yang sedang memerintah, dan kelilingnya nama delapan orang sulthan yang memerintah sebelumnya. Menurut kanun, bahwa delapan orang sulthan kelilingnya melambangkan empat dasar hukum (Al Quran, Al Hadis, IjmakUlama dan Qias) dan empat jenis hukum (Hukum, Adat, Kanun dan Resam), yang berarti bahwa sulthan dikelilingi oleh hukum.

Dalam Keadaan Perang

Kanun menetapkan hukum negara dalam keadaan perang sebagai berikut:

Bahwa jika negeri Aceh diserang oleh musuh, maka sekaliananak negeri atas nama rakyat Aceh dan bangsa Aceh, diwajibkan menolong yang kebajikan kepada negeri dan kepada kerajaan dengan tulus ikhlas berupa apapun juga, yaitu harta dan perbuatan dan run dan serta akal dan pikiran.

Sekalian rakyat hendaklah memperhutangkan derham kepada Raja bila masa perlu, dan jika menang maka kerajaan berhak mutlak membayar kembali kepada rakyat dan anak negeri seluruhnya.

Lembaga-Lembaga Negara

Kanun menetapkan adanya lembaga-lembaga negara dan pejabat- jabat tinggi yang memimpinnya, yang ikhtisarnya sebagai berikut:
  • Balai Rong Sari, yaitu lembaga yang dipimpin oleh sulthan sendiri, yang anggota-anggotanya terdiri dari Hulubalang Empat dan Ulama Tujuh. (Kira-kira semacam BAPENAS kalau sekarang).
  • Balai Majelis Mahkamah Rakyat, yang dipimpin oleh Qadli Malikul Adil, yang beranggotakan 73 orang. (Kira-kira semacam Dewan Perwakilan Rakyat).
  • Balai Gading, yang dipimpin oleh Wazir Mu'azzam Orangkaya Perdana Menteri. (Kira-kira seperti Kabinet Perdana Menteri).
  • Balai Furdhah, dibawah pimpinan seorang wazir yang bergelar Menteri Seri Paduka, (kira-kira sama dengan Departemen Perdagangan).
  • Balai Laksamana, dibawah pimpinan seorang wazir yang bergelar Orang kaya Laksamana Amirul Harb. (Kira-kira sama dengan Departemen Pertahanan).
  • Balai Majlis Mahkamah, dibawah pimpinan seorang wazir yang bergelar Seri Raja Panglima Wazir Mizan, (kira-kira seperti Departemen Kehakiman).
  • Balai Baitul Mal, di bawah pimpinan seorang wazir yang bergelar Orang kaya Seri Maharaja Bendahara Raja Wazir Derham, (kira-kira seperti Departemen Keuangan).

Kecuali balai-balai tersebut di atas, masih ada sejumlah wazir- wazir yang mengurus sesuatu urusan, kira-kira kalau sekarang disebut Menteri Negara. Wazir-wazir tersebut, yaitu:
  • Seri Maharaja Mangkubumi, yaitu wazir yang mengurus segala hulubalang (pamongpraja), kira-kira seperti Menteri Dalam Negeri.
  • Wazir Badlul Muluk, yaitu wazir yang mengurus perutusan keluar negeri dan perutusan yang datang dari luar negeri, kirakira seperti Menteri Luar Negeri.
  • Wazir Kun Diraja, yaitu wazir yang mengurus urusan Dalam (Keraton Darud Dunia) dan merangkap menjadi Syahbandar (Walikota) Banda Aceh.
  • Menteri Raina Setia, yaitu wazir yang mengurus urusan cukai pekan seluruh kerajaan.
  • Seri Maharaja Gurah, yaitu wazir yang mengurus hal ikhwal kehutanan, kira-kira Mênteri Kehutanan.
Disamping itu masih ada lembaga-lembaga yang juga bernama Balai, tetapi bukan kementerian, hanya semacam Jawatan Pitsat kalau sekarang, dan pejabat yang memimpinnyu bukan bergelar wazir, hanya Tuha. Lembaga-lembaga tersebut yaitu:
  • Balai Setia Hukama, tempat berkumpulnya para Hukama dan Ulama.
  • Balai Ahli Siyasah, kira-kira seperti Biro politik.
  • Balai Musafir, kira-kira seperti Biro Turisme.
  • Balai Safinah, semacam kantor Urusan Pelayaran.
  • Balai Fakir-Miskin, kira-kira Jawatan Sosial.

Pemerintah Daerah

Kerajaan Aceh Darussalam, selain dari Pemerintah Pusat. Juga terdiri dari wilayah-wilayah sampai pada tingkat yang paling rendah, yang susunannya seperti yang diatur dalam kanun sebagai berikut:

a. Gampong.
Tingkat pemerintahan terendah yaitu Gampong atau kampung (Pemerintah Desa). Pimpinan Gampong terdiri dari Keuchik dan Teungku Meunasah yang juga disebut Imam Rawatib, dan dibantu oleh Tuha Peut (empat orang cerdik-pandai), kira-kira seperti Badan Pemerintah Harian (BPH).

b. Mukim.
Mukim merupakan federasi dari gampong-gampong, yang satu mukim paling kurang terdiri dari delapan gampong. Federasi Mukim dipimpin oleh seorang lmeum Mukim dan Qadli Mukim.

c. Nanggroè.
Wilayah Nanggroè (Negeri) kira-kira sama dengan daerah kecacamatan sekarang. Nanggroè dipimpin oleh seorang Uleébalang (Hulubalang) dan seorang Qadli Nanggroè. Uleébalang mempunyai gelar yang berbeda, menurut nanggroënya masing-masing; umpamanya ada yang bergelar Teuku Laksamana, ada yang bergelar Teuku Bentara, ada yang bergelar Teuku Bendahara dan sebagainya.

d. Sagoë.
Dalam wilayah Aceh Besar dibentuk tiga buah federasi yang bernama Sagoé, yang di bawah masing-masing Sagoë terdapat beberapa buah Nanggroè. Tiap-tiap Sagoé (Sagi) dipimpin oleh seorang Panglima Sagoë dan seorang Qadli Sagoë.
  • Sagoë Teungoh Lheeploh (Sagi 25), terdiri dari 25 Mukim: Panglima Sagoënya bergelar Qadli Malikul Alam Seri Setia Ulama.
  • Sagoé Duaploh Nam (Sagi 26), yang terdiri dari 26 Mukim; Panglima Sagoënya bergelar Seri Imam Muda 'Oh.
  • Sagoë Duaploh Dua (Sagi 22), yang terdiri dari 22 Mukim; Panglima Sagoënya bergelar Panglima Polem Seri Muda Perkasa.

Mata Uang Aceh

Sebelum berdiri Kerajaan Aceh Darussalam,Kerajaan Islam Samudra/Pasai telah pernah mencetak mata-uangnya sendiri yang bernama derham, yang dibuat pada awal abad XIV; yang mana mata uang Samudra/Pasai ini adalah mata-uang asli yang pertama di Kepulauan Nusantara.

Kerajaan Aceh Darussalam membuat mata uang sendiri pada masa Pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayat Syah II Abdul Qahhar yang memerintah dalam tahun 945-979 h. (1539-1571 m.) dan terdiri dari tiga jenis:
  • Keueti, yaitu mata-uang yang dibuat dari timah. Pada satu sisi ditulis dengan huruf Arab tahun pembuatannya, dan pada sisi yang lain ditulis nama Ibukota Negara Banda Aceh Darussalam.
  • Kupang, yaitu mata-uang yang dibuat dari perak. Pada sisi pertama ditulis tahun pembuatannya, dan pada sisi kedua ditulis nama ibukota negara Banda Aceh Darussalam, dan ada juga yang ditulis nama Sulthan yang memerintah waktu pembuatannya.
  • Deurham, yaitu mata-uang yang dibuat dari emas. Pada sisi pertama ditulis nama Sulthan waktu pembuatannya dan pada sisi yang lain ditulis tahun pembuatannya, dan ada juga yang ditulis bersama-sama dengan Banda Aceh Darussalam.

====================================================
Sumber : ATJEH CYBER WARRIOR  - www.atjehcyber.tk
:: Qanun Meukuta Alam al-Asyi  -  http://goo.gl/9NyNs
===============================================

ULASAN PERCAKAPAN SOEKARNO DAN DAUD BEUREU'EH

“...Waallah Billah..., Atjeh nanti akan saya beri hak untuk menjusun rumah tangganja sendiri sesuai Syari’at Islam. Akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakjat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syari’at Islam. Apakah Kakak masih ragu...??”

Kata-kata... di atas diucapkan oleh Soekarno sambil terisak di bahu seseorang yang ia panggil Kakak. Sang kakak, tidak lain adalah Daud Beureueh. Akhirnya, berbekal iba dan isak tangis, Soekarno berhasil meluluhkan hati sang Abu Jihad, demikian panggilan Daud Beureueh.
 
Soekarno mengucapkan janjinya untuk meyakinkan Daud Beureueh, bahwa jika Aceh bersedia membantu perjuangan kemerdekaan, Syari’at Islam akan diterapkan di tanah Rencong ini. Maka urung niat Daud Beureu’eh meminta perjanjian hitam di atas putih.
 
Namun ternyata janji tinggal janji, Belum kering bibir Soekarno berjanji, Ia menghianati janji yang di ucapkannya sendiri. Dan penerapan Syariat Islam di Aceh pun tinggal mimpi. Air mata yang diteteskan Soekarno ternyata hanya pelengkap sandiwara. Deraian Air Mata Bung Karno ternyata adalah titik awal mula penderitaan Rakyat Pemodal Kemerdekaan Bangsa ini.
 
Saat berkunjung ke Aceh tahun 1948, Bung Karno dengan sengaja menemui tokoh Aceh, Daud Beureueh. Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan “Kakak” dan terjadilah dialog yang sampai saat ini tersimpan dengan baik dalam catatan sejarah :
 
Presiden Soekarno : “Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.”
 
Daud Beureueh : “Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.”
 
Presiden Soekarno : “Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”
 
Daud Beureueh : “Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya.”
 
Presiden Soekarno : “Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam.”
 
Daud Beureueh : “Maafkan saya Saudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden.”
 
Presiden Soekarno : “Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan Kakak itu.”
 
Daud Beureueh : “Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon (sambil menyodorkan secarik kertas kepada presiden) sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.”
 
Mendengar ucapan Daud Beureueh itu Bung Karno langsung menangis terisak-isak. Airmata yang mengalir telah membasahi bajunya. Dalam keadaan sesenggukan ;
 
Soekarno berkata, : “Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi presiden. Apa gunanya menjadi presiden kalau tidak dipercaya.”
 
Dengan tetap tenang, Daud Beureueh menjawab, : “Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi sekadar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang.”
 
Sambil menyeka airmatanya, Bung Karno mengucap janji dan bersumpah;
 
Bung Karno bersumpah : “Waallah Billah (Demi Allah), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan Waallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?”
 
Daud Beureueh menjawab : “Saya tidak ragu Saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Saudara Presiden.”
 
***
 
Dalam sebuah wawancara yang dilakukan M. Nur El Ibrahimy dengan Daud Beureueh, Daud Beureueh menyatakan bahwa melihat Bung Karno menangis terisak-isak, dirinya tidak sampai hati lagi untuk bersikeras meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji presiden itu.
 
Soekarno mengucapkan janji tersebut pada tahun 1948. Setahun kemudian Acehbersedia dijadikan satu provinsi sebagai bagian dari NKRI. Namun pada tahun 1951, belum kering bibir mengucap, Provinsi Aceh dibubarkan pemerintah pusat dan disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara.
 
Jelas, ini menimbulkan sakit hati rakyat Aceh. Aceh yang porak-poranda setelah berperang cukup lama melawan Belanda dan kemudian Jepang, lalu menguras dan menghibahkan seluruh kekayaannya demi mempertahankan keberadaan Republik Indonesia tanpa pamrih, oleh pemerintah pusat bukannya dibangun dan ditata kembali bahkan dibiarkan terbengkalai.
 
Bukan itu saja, hak untuk mengurus diri sendiri pun akhirnya dicabut. Rumah-rumah rakyat, dayah-dayah, meunasah-meunasah, dan sebagainya yang hancur karena peperangan melawan penjajah dibiarkan porak-poranda. Bung Karno telahmenjilat ludahnya sendiri dan mengkhianati janji yang telah diucapkannyaatas nama Allah. Kenyataan ini oleh rakyat Aceh dianggap sebagai kesalahan yang tidak pernah termaafkan.
 
Sumber : ATJEH CYBER WARRIOR - www.atjehcyber.tk

Minggu, 14 Agustus 2011

Doa untuk kekasih



Oleh: Indra Cakradonya

31857_111250532254373_100001082792120_74591_2380661_n.jpgBingkisan doa: “Ya Allah…. Seandainya tlah engkau catatkan… dia milikku, dia tercipta untukku… satukanlah hatinya dengan hatiku… titikanlah kebahagiaan di antara kami…. Agar kemesraan itu abadi…
Dan ya Allah… ya tuhan ku yg maha mengasihi….  Seiringkanlah kami dalam melayari hidup ini… ketepian yg sejahtra dan abadi…. Tetapi ya Allah………… seandainya telah engkau takdirkan…… dia bukan milikku….. bawalah dia jauh dari pandanganku… luputkanlah dia dari ingatanku…. Dan peliharalah aku dari kekecewaan….
Serta Ya Allah ya tuhanku yg maha mngerti…. Berikanlah aku kekuatan…melontar bayangannya jauh ke dada langit…. Hilang bersama senja merah… agarku bisa bahagia… walaupun tanpa bersama dengannya..
 Dan Ya Allah yg tercinta.. gantilah yg telah hilang… tumbuhkanlah kembali yg tlah patah….. walaupun tidak sama dengan dirinya….
Ya Allah ya tuhanku…. Pasrahkanlah aku dengan takdirmu..… sesungguhnya apa yg telah Engkau takdirkan… adalah yang trbaik buatku…karena Engkau maha mngetahui apa yg trbaik buat hambamu ini….
Ya Allah cukuplahEngkau sahaja yg mnjadi pemeliharaku… di dunia maupun di akhirat.. dengarlah rintihan dari hambamu yg dhaif ini.….  jangan Engkau biarkan aku sendirian… di dunia ini maupun di akhirat…. Menjuruskan aku ke jalan kemaksiatan dan kemungkaran….
Maka karuniakanlah aku seorng pasangan yg beriman… supaya aku dan dia sama2 dapat mmbina kesejahteraan hidup… ke jalan yg Engkau ridhai… dan kurniakanlah padaku keturunan yg shaleh…
Amiiin ya Rabbal A’lamiiin…….