WAGUB Aceh Muhammad Nazar mengeluh tentang ketakutan sejumlah pejabat berkoordinasi dengannya. Duet Irwandi-Nazar semakin retak jelang Pilkada 2011.
Akhir bulan lalu sebuah dayah tinggi di Aceh Utara melakukan wisuda. Awalnya wisuda ini akan dihadiri Wagub Nazar. Namun menjelang hari ‘H’, Wagub batal diundang. Penggantinya langsung Gubernur Irwandi. Sejumlah sumber mengatakan pembatalan ini atas intervensi Irwandi. Dia pun sengaja datang naik helikopter bersama Kapolda dan Pangdam.
Kasus serupa berulang di beberapa tempat dalam beragam acara. Termasuk penggantian sejumlah pejabat di Biro Isra Setda Aceh. Sepertinya, ini adalah upaya Irwandi menjegal Wagub dekat dengan konstituen. Ini tidak lain karena keduanya berencana maju sebagai calon gubernur dalam Pilkada kali ini.
IRNA adalah paket yang dipilih rakyat dalam Pilkada lalu. Harapan rakyat tidak lain adalah IRNA mampu membawa perubahan ke arah lebih baik dari sebelumnya. Tapi bila dalam kepemimpinan ternyata keduanya bertengkar, bagaimana jadinya harapan-harapan itu. Adalah sangat rusak kalau persaingan keduanya kemudian merangsek masuk ke wilayah birokrasi. Bila tubuh birokrasi terkotak-kotak maka sinergitas sesama mereka dalam bekerja menjadi tidak maksimal. Satu dan lainnya akan saling menyikut. Pengaruhnya adalah kinerja duet IRNA juga.
Siapa yang tak kenal karakter sang gubernur yang flamboyant ini. Caci maki dan sumpah serapah adalah bagian kesehariannya. Apalagi situasi politik yang makin memanas saat ini. Tapi sungguh naïf bila karena ambisi yang belum tentu tercapai kemudian merusak semua yang telah mereka (IRNA) bangun bersama. Ini seperti pepatah “let boh puuk, ro breueh lam eumpang”.
Seharusnya persaingan politik disikapi lebih dewasa. Selaku aktor politik yang punya tujuan, mereka berdua harus lebih bijak. Silahkan bersaing secara sehat tanpa harus melupakan tanggung jawab keduanya untuk menyukseskan kepemimpinan Aceh ini.
Birokrasi yang telah rusak jangan tambah dirusak, karena kepentingan pragmatis. Banyak hal yang akan lebih bermanfaat bila mereka bersinergi positif. Konon lagi masa kepemimpinan duet ini masih sekitar setahun lagi. Apa jadinya bila kemudian Irwandi selaku gubernur ingin menutup akses wagub selagi mereka masih berpasangan. Yang terjadi pasti publik akan menilai Irwandi kekanak-kanakan. Sadar tidak sadar bila imej ini berkembang maka yang rugi adalah Irwandi sendiri.
Mungkin Irwandi seorang penganut machiavelis yang berprinsip lebih baik ditakuti darpada dicintai. Tapi yakinlah ketakutan hanya melahirkan loyalitas semu. Hampir semua anak buahnya takut dengan Irwandi. Sikap temperamental ini mematikan kreativitas orang-orang yang membantunya. Ketidaknyamanan dalam bekerja menyebabkan aparatur sibuk mengamankan diri daripada bekerja secara profesional.
Penulis punya pengalaman menarik ketika Irwandi baru berkuasa. Ketika itu, ia baru saja pulang dari lawatan pajang keliling Eropa dan Amerika. Di depan tamu di rumah dinasnya, ia menghina dan membentak-bentak Kadis Perikanan Ir Razali. Tapi setelah Razali permisi pulang, Irwandi memuji Razali sebagai kepala dinas terbaik. Penulis pun bertanya kenapa tadi Razali diperlakukan seperti itu? Irwandi dengan enteng menjawab, “supaya dia tahu saya ini gubernur dan pimpinannya”. Ketika penulis mencoba bertanya lebih lanjut, Irwandi mengatakan “hana ka tu oh dikah”. Pengalaman yang hampir sama juga sempat penulis dengar dari beberapa birokrat Aceh lainnya.
Keretakan hubungan Irwandi–Nazar sekarang ini sepertinya telah terbaca jauh-jauh hari. Nazar lebih santun dan egaliter. Irwandi emosional dan cenderung tidak stabil. Sepertinya dalam kasus ini Nazar kalah dan menjadi di bawah bayang-bayang hegemoni Irwandi dan kelompoknya. Padahal tanpa sadar, konflik ini tercipta karena kepentingan-kepentingan orang lain. Irwandi tanpa sadar telah didorong untuk menekan, menjauhi, mengebiri, mengisolasi peran Nazar sebagai wagub. Irwandi, mungkin lebih mau mendengar orang-orang di sekelilingnya daripada pasangannya.
Padahal dalam sebuah organisasi perebutan dan saling jagal dari dalam akan menghancur organisasi itu dari dalam. Makin mengemuka tindakan amputasi kepada wagub maka makin banyak orang sadar Irwandi ternyata bukanlah orang yang layak dipilih sebagai pemimpin. Energi yang telah mereka bangun selama berkuasa ini telah menjadi kayu bakar bagi keduanya. Padahal dapat dibayangkan bila keduanya kembali bersinergi untuk berduet lagi. Ini pasti akan mengurangi kost yang harus ditanggung masing-masing pihak untuk memenangkan Pilkada ke depan. Kansnya pasti lebih besar karena keduanya adalah incumbent.
Boleh jadi pertarungan kedua pimpinan pemerintahan Aceh saat ini karena keduanya sangat percaya diri. Keduanya yakin bakal meraih kursi gubernur di periode yang akan datang. Akibatnya jurang persaingan pun terbuka lebar. Saling sikut dan jagal pun mengalir bersama ambisi itu. Keduanya butuh energi yang besar. Maka jangan heran saat ini sangat mudah untuk mengadu domba mereka dan mengambil manfaat dari perpecahan ini. IRNA ‘rateb di uram, prang di ujong’.[]
Penulis Murthalamuddin, wartawan Harian Aceh di Lhokseumawe, tulisan ini pendapat pribadi penulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar