Sat, Feb 6th 2010, 09:02
BEBERAPA pekan terakhir, pemberitaan media massa tertuju pada persoalan ASEAN China Free Trade Area (ACFTA) atau Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China. Baru saja berjalan per 1 Januari 2010, sejumlah kekhawatiran sudah mengemuka. Bukan saja khawatir terhadap membanjirnya barang produksi Negeri Tirai Bambu, tapi ketakutan terhadap matinya sejumlah usaha kecil dan menengah di Indonesia. Hampir tak ada produksi negara lain yang tidak bisa diproduksi China.
Produksi China merambah seluruh sektor. Industri hulu dan hilir tak pernah luput dari perhatian masyarakat China. Dari pembuatan jarum jahit hingga mobil bahkan satelit pun mampu dikerjakan etnis China. Migrasi adalah bagian filosofi hidup masyarakat China untuk mengusai dunia. Tak pelak, negeri adidaya sekelas Amerika Serikat kelimpungan dihajar produk China. Bagaimana dengan Indonesia, terutama Aceh yang memang sangat bergantung pada China. Sehingga di Aceh dikenal istilah” China Toke, Kafe Tuan, Aceh Teungku, Meulayu Abang”. Begitu masyarakat Aceh telah mengakui etnis China sebagai bangsa pedagang selain Arab dan Gujarat. Istilah yang tidak diketahui asal-usulnya.
Sejak lama etnis China memang telah merangsek ke berbagai sendi kehidupan terutama perdagangan dan industri. Dunia medis pun kian dominan dengan resep dan rempah China. Demikian juga lembaga pendidikan yang diborong China. Tak salah jika hadis nabi menyatakan Tuntutlah Ilmu hingga ke negeri China. Memang China telah lebih maju daripada peradaban dunia lain sekalipun. Lalu, mengapa baru sekarang takut kepada China?
Gempuran pengaruh China kali ini memang membuat kita kelimpungan. Seluruh produk dalam negeri akan diganti dengan produksi China. Harga murah dan pasokan mudah membuat usaha dalam negeri harus mencari celah. Jika tidak, akan banyak pengangguran dan industri kecil gulung tikar karena tidak sanggup bersaing dengan negeri Panda ini. Tak terkecuali produk pertanian.
Akibat ACFTA, neraca perdagangan Indonesia dan China akan berbalik. Pasar Indonesia tidak hanya kebanjiran produk China, tapi juga produk negera ASEAN seperti, Malaysia, Thailand. Dengan cadangan devisi, 2,13 triliyun Dollar AS dan dalam enam bulan pertaha 2009 bertambah 185,6 miliyar Dollar AS, China akan dapat memborong produk pertanian dari Negara ASEAN termasuk Indonesia (Pertanian dalam ACFTA, Opini Gatot Irianto, Kompas, 1/02/10).
Melesatnya tingkat pertumbuhan China memaksa mereka mencari dunia baru. Jumlah penduduk China hampir satu setengah miliyar menjadikan China harus mampu hidup dan berkembang di negeri lain, termasuk Indonesia. Hasilnya, China memang menguasai bisnis dan perdagangan di semua bidang. Ketekunan dan keuletan adalah bagian yang membuat mereka sukses. Waktu dan peluang adalah dua hal yang tak pernah disia-siakan China. Jarang kita temukan orang China kongkow tanpa maksud, karena peredaran waktu adalah peredaran uang bagi mereka. Maka, wajah di mana pun kita bisa temui China Town atau Kota China yang memang aroma China terasa begitu kental.
Cina Itam
Saya tergugah membaca Opini Jarjani Usman; ACFTA, Aceh jangan KO (Serambi, 3/02/10). Jarjani Usman (JU) mengingatkan kita terhadap kemampuan daya saing menghadapi penetrasi produk China. Ketergantungan Aceh terhadap luar memang memungkinkan kita dipukul Knock Out (KO). Suka atau tidak, siap atau tidak kita memang tengah dihimpit berbagai produk China jauh sebelumnya ACFTA ini berjalan.
Di Indonesia, suku bangsa yang nyaris mampu berbisnis seperti China adalah suku Minang. Kendati tidak persis berhasil seperti China, Minang masih bisa hidup di antara himpitan bisnis China. Sebagai suku pedagang dan perantauan, Minang bisa eksis di mana pun seperti bangsa China. Meskipun tak ada label resmi, suku Minang yang lebih populer dengan sebutan Padang dikenal dengan istilah Cina Indonesia. Bahkan sebagian orang mengenalkan Padang sebagai Cina Hitam atau Cina Itam, sebutan orang Aceh. Sehingga, pernah ada asumsi, jika suatu pasar yang tak ditemukan bisnis China, maka daerah itu lama berkembang.
Di Aceh, ada etnis tertentu yang mampu menyaingi bisnis China. Suku Aceh yang berasal dari Pidie cerdik dan piawai dalam berniaga. Mungkin tidak berlebihan jika orang Pidie mampu membaca peluang bisnis dan hidup melarat jika tengah menapaki kesuksesan. Tekanan hidup daerah konflik mungkin membuat orang Pidie bangkit dan besar paling tidak di Aceh dan sebagian kawasan di Indonesia.
Karena kuatnya naluri bisnis Pidie, Buureunun, ibukota kecamatan Mutiara etnis China “dimatikan”. Saat itu bisnis China mati suri `dihantam’ strategi Cina Itam. Kondisi ini bisa terjadi karena kuatnya jaringan bisnis Cina Itam yang mampu menerabas bisnis etnis China yang sesungguhnya.
Strategi China Itam memang sudah lama terbukti dan teruji. Tekad menguasai bisnis dan kekuasaan telah dijalankan China Itam. Lihat saja trik pelaku bisnis asal Pidie ini. Awalnya mereka jualan mie gureng alias menumpang di kaki lima warung orang. Tak lama kemudian, dia mulai masuk dan menjadi pemodal sebagian. Jika tak lihai, warung tersebut separuh menjadi miliknya. Lama-kelamaan warung itu sah menjadi miliknya dan pemilik lama pun harus mencari tempat baru karena kalah cerdik dengan China Itam.
China Saboh Geudong
China Itam ini tak memusuhi etnis China. Mereka bahkan mencuri ilmu dari etnis Tionghoa. Pengetahuan bisnis mereka diserap agar tetap eksis dan mampu bersaing. Maka, muncullah istilah China Saboh Geudong. China saboh geudong diibaratkan sebagai join usaha bersama antara China dengan pribumi atau etnis di luar China. Jika ingin bertahan, maka jadilah China Saboh Geudong atau China Itam. Jika tidak tunggulah kita sebagai objek empuk produk China hingga barang kita tak laku lagi di pasaran, maka ledakan pengangguran pun tak bisa dihindari.
* Penulis adalah wartawan, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh.
Produksi China merambah seluruh sektor. Industri hulu dan hilir tak pernah luput dari perhatian masyarakat China. Dari pembuatan jarum jahit hingga mobil bahkan satelit pun mampu dikerjakan etnis China. Migrasi adalah bagian filosofi hidup masyarakat China untuk mengusai dunia. Tak pelak, negeri adidaya sekelas Amerika Serikat kelimpungan dihajar produk China. Bagaimana dengan Indonesia, terutama Aceh yang memang sangat bergantung pada China. Sehingga di Aceh dikenal istilah” China Toke, Kafe Tuan, Aceh Teungku, Meulayu Abang”. Begitu masyarakat Aceh telah mengakui etnis China sebagai bangsa pedagang selain Arab dan Gujarat. Istilah yang tidak diketahui asal-usulnya.
Sejak lama etnis China memang telah merangsek ke berbagai sendi kehidupan terutama perdagangan dan industri. Dunia medis pun kian dominan dengan resep dan rempah China. Demikian juga lembaga pendidikan yang diborong China. Tak salah jika hadis nabi menyatakan Tuntutlah Ilmu hingga ke negeri China. Memang China telah lebih maju daripada peradaban dunia lain sekalipun. Lalu, mengapa baru sekarang takut kepada China?
Gempuran pengaruh China kali ini memang membuat kita kelimpungan. Seluruh produk dalam negeri akan diganti dengan produksi China. Harga murah dan pasokan mudah membuat usaha dalam negeri harus mencari celah. Jika tidak, akan banyak pengangguran dan industri kecil gulung tikar karena tidak sanggup bersaing dengan negeri Panda ini. Tak terkecuali produk pertanian.
Akibat ACFTA, neraca perdagangan Indonesia dan China akan berbalik. Pasar Indonesia tidak hanya kebanjiran produk China, tapi juga produk negera ASEAN seperti, Malaysia, Thailand. Dengan cadangan devisi, 2,13 triliyun Dollar AS dan dalam enam bulan pertaha 2009 bertambah 185,6 miliyar Dollar AS, China akan dapat memborong produk pertanian dari Negara ASEAN termasuk Indonesia (Pertanian dalam ACFTA, Opini Gatot Irianto, Kompas, 1/02/10).
Melesatnya tingkat pertumbuhan China memaksa mereka mencari dunia baru. Jumlah penduduk China hampir satu setengah miliyar menjadikan China harus mampu hidup dan berkembang di negeri lain, termasuk Indonesia. Hasilnya, China memang menguasai bisnis dan perdagangan di semua bidang. Ketekunan dan keuletan adalah bagian yang membuat mereka sukses. Waktu dan peluang adalah dua hal yang tak pernah disia-siakan China. Jarang kita temukan orang China kongkow tanpa maksud, karena peredaran waktu adalah peredaran uang bagi mereka. Maka, wajah di mana pun kita bisa temui China Town atau Kota China yang memang aroma China terasa begitu kental.
Cina Itam
Saya tergugah membaca Opini Jarjani Usman; ACFTA, Aceh jangan KO (Serambi, 3/02/10). Jarjani Usman (JU) mengingatkan kita terhadap kemampuan daya saing menghadapi penetrasi produk China. Ketergantungan Aceh terhadap luar memang memungkinkan kita dipukul Knock Out (KO). Suka atau tidak, siap atau tidak kita memang tengah dihimpit berbagai produk China jauh sebelumnya ACFTA ini berjalan.
Di Indonesia, suku bangsa yang nyaris mampu berbisnis seperti China adalah suku Minang. Kendati tidak persis berhasil seperti China, Minang masih bisa hidup di antara himpitan bisnis China. Sebagai suku pedagang dan perantauan, Minang bisa eksis di mana pun seperti bangsa China. Meskipun tak ada label resmi, suku Minang yang lebih populer dengan sebutan Padang dikenal dengan istilah Cina Indonesia. Bahkan sebagian orang mengenalkan Padang sebagai Cina Hitam atau Cina Itam, sebutan orang Aceh. Sehingga, pernah ada asumsi, jika suatu pasar yang tak ditemukan bisnis China, maka daerah itu lama berkembang.
Di Aceh, ada etnis tertentu yang mampu menyaingi bisnis China. Suku Aceh yang berasal dari Pidie cerdik dan piawai dalam berniaga. Mungkin tidak berlebihan jika orang Pidie mampu membaca peluang bisnis dan hidup melarat jika tengah menapaki kesuksesan. Tekanan hidup daerah konflik mungkin membuat orang Pidie bangkit dan besar paling tidak di Aceh dan sebagian kawasan di Indonesia.
Karena kuatnya naluri bisnis Pidie, Buureunun, ibukota kecamatan Mutiara etnis China “dimatikan”. Saat itu bisnis China mati suri `dihantam’ strategi Cina Itam. Kondisi ini bisa terjadi karena kuatnya jaringan bisnis Cina Itam yang mampu menerabas bisnis etnis China yang sesungguhnya.
Strategi China Itam memang sudah lama terbukti dan teruji. Tekad menguasai bisnis dan kekuasaan telah dijalankan China Itam. Lihat saja trik pelaku bisnis asal Pidie ini. Awalnya mereka jualan mie gureng alias menumpang di kaki lima warung orang. Tak lama kemudian, dia mulai masuk dan menjadi pemodal sebagian. Jika tak lihai, warung tersebut separuh menjadi miliknya. Lama-kelamaan warung itu sah menjadi miliknya dan pemilik lama pun harus mencari tempat baru karena kalah cerdik dengan China Itam.
China Saboh Geudong
China Itam ini tak memusuhi etnis China. Mereka bahkan mencuri ilmu dari etnis Tionghoa. Pengetahuan bisnis mereka diserap agar tetap eksis dan mampu bersaing. Maka, muncullah istilah China Saboh Geudong. China saboh geudong diibaratkan sebagai join usaha bersama antara China dengan pribumi atau etnis di luar China. Jika ingin bertahan, maka jadilah China Saboh Geudong atau China Itam. Jika tidak tunggulah kita sebagai objek empuk produk China hingga barang kita tak laku lagi di pasaran, maka ledakan pengangguran pun tak bisa dihindari.
* Penulis adalah wartawan, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar