Friday, 29 October 2010 15:30
Proses persiapan kamus tersebut diawali dengan kedatangan Cornelis de Houtman yang mengepalai 4 kapal Belanda pertama dibawah nama Compagnie van
Verre pada tahun 1594. Ia berlayar ke negeri-negeri sebelah timur bahkan hingga sampai ke wilayah Sulawesi (J.S. Furnivall, 1967: 22).
Verre pada tahun 1594. Ia berlayar ke negeri-negeri sebelah timur bahkan hingga sampai ke wilayah Sulawesi (J.S. Furnivall, 1967: 22).
Pada pelayaran kedua, beberapa sumber penting menyebutkan, salah satu wilayah yang dikunjungi adalah Kesultanan Aceh Darussalam yang saat itu berada dibawah pemerintahan Sultan Alaaddin Riayat Syah al-Mukammil (1588-1604). Ia ditemani oleh awak kapal termasuk saudaranya yang bernama Frederick de Houtman. Tujuan utama perlayaran tersebut adalah untuk mewakili Belanda dalam urusan perniagaan dan perdagangan rempah. Menurut Linehan, de Houtman belayar ke tanah Melayu pada tanggal 23 Maret 1598 dengan disertai dua buah kapal yang dinamai ‘Lion and Liones’ dan memasuki perairan Aceh, tepatnya Pulau Weh, pada 21 dan atau 26 Juni 1599 (Harun Aminurrasyid, 1966:124; G.W. J. Drenes, 1979: 10).
Sebagaimana diketahui wilayah Aceh saat itu berada dalam monopoli Portugis. Campur tangan Belanda dalam urusan perniagaan telah menyebabkan perselisihan. Ada beberapa versi sejarah yang menyebutkan mengenai perselisihan tersebut terkait dengan penciptaan kamus Melayu-Belanda. Salah satunya adalah Pihak Kesultanan Aceh memerintahkan Laksamana Keumalahayati untuk menangkap awak kapal de Houtman yang kemudian terbunuh karena pertikaian. Meskipun begitu diketahui bahwa Frederick de Houtman dan beberapa awak kapal hidup dan menjadi tawanan Kesultanan Aceh sejak tahun 1599 hingga 1601 atau sekitar 24 bulan. Ia ditebus oleh saudagar-saudagar Belanda, Laurence Bicker dan Gerard Le Roy yang khusus dikirim oleh Pangeran Maurice. Melalui utusan ini, Pangeran Maurice meminta Sultan al-Mukammil untuk membebaskan Frederick dan tahanan Belanda lainnya sekaligus memulai urusan perniagaan secara resmi dengan kesultanan Aceh Darussalam. Permintaan tersebut dikabulkan Sultan yang kemudian mengutus Abdul Samad, Laksamana Sri Muhammad, dan bangsawan Mir Hasan ke Belanda pada 29 November 1601 dan tiba pada 6 Juli 1602. Abdul Hamid menghembuskan nafas terakhirnya disana pada 10 Agustus 1602 dan dimakamkan di Gereja Saint Peter. Hubungan ini berlanjut hingga 400 tahun ke depan. (Ismail Sofyan, 1990: 18; William Marsden, 1966: 435; Dasgupta, 1962: 71).
Sebelum melanjutkan pembahasan kita tentang kamus Malayu-Belanda yang pertama, sepatutnya kita mengetahui bagaimana seorang tahanan dapat menghasilkan karya yang sangat ilmiah. Salah satu kemungkinannya adalah- sebagaimana Frederick de Houtman menulis dalam bukunya bahwa beliau bertemu dengan Syeikh Shamsuddin as-Sumatrani yang saat itu memegang tempat dan tanggung jawab penting di istana mengingat kondisi umur Sultan al-Mukammil yang memerintah saat itu terbilang tua untuk mampu mengurus administrasi kerajaan (Takeshi 1984: 84). Maka bukankah masuk akal jika tokoh-tokoh Aceh terkemuka seperti Syamsuddin As-Sumatrani atau tokoh-tokoh lainnya ikut menyumbangkan kontribusi dalam persiapan kamus tersebut?. Apakah mungkin tanpa keterlibatan masyarakat pribumi, Frederick, seorang yang dipenjarakan, mampu melahirkan hasil karya yang tergolong sangat ilmiah. Suatu hal yang logis jika saya menyebutkan adanya komunikasi formal antara Frederick de Houtman dengan para cendikiawan Aceh. Karena meskipun ia berstatus tahanan di Bandar Aceh, ibu kota Kesultanan Aceh saat itu, kesultanan Aceh tentunya telah bersikap dan melayani persoalan-persoalan Frederick secara manusiawi. Atau bisa dikatakan juga bahwa orang Aceh tidak sekedar menerima Frederick sebagai yang bersalah tetapi lebih dari seorang tamu yang membutuhkan bantuan, termasuk dalam proses pengumpulan kosa kata bahasa Melayu-Belanda. Patut diakui pula bahwa orang Aceh, sebagaimana yang banyak disebutkan dalam sumber-sumber sejarah, meminta Frederick untuk menganut Islam dikarenakan berbagai alasan, termasuk untuk bekerjasama dengannya dalam menyelesaikan kamus Melayu-Belanda tersebut. Bagaimanapun juga, tak ada sumber tertentu yang menyatakan adanya campur tangan secara langsung.
Setelah de Houtman diperbolehkan pulang ke negeri asalnya, ia menyusun kembali rekaman-rekaman tertulisnya yang kemudian berhasil diterbitkan di Amsterdam dengan tajuk “Spraeck de woordboek in de Maleysche en de Madagaskarse Talen (Grammar and Dictionary of the Malayan and Malagasy Languages)” pada tahun 1603. Karya ini dikatakan menarik karena memuat 12 bentuk percakapan dan dialog dalam bahasa Melayu, 3 bentuk dialog dalam bahasa Malagasi dan lebih dari 2000 kosa kata Melayu-Belanda atau Belanda-Malagasi. (Dasgupta 1962:68)
Catatan A.W. Hamilton dalam artikelnya yang bertajuk “The First Dutch-Malay Vocabulary”, menyebutkan bahwa kamus tersebut pada awalnya tidak disertai dalam bahasa Inggris tapi hanya bergantung pada karakter huruf versi de Houtman. Contohnya, arijs, adalah ejaan Melayu de Houtman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, den dach. The day adalah penambahan dalam bahasa Inggris yang artinya adalah hari. Contoh lainnya adalah baccar, dalam bahasa Belanda verbranden, to burn adalah penambahan terjemahan dalam bahasa Inggris yang artinya dalam bahasa Melayu kini, bakar.
Kosa kata yang telah ditulis oleh de Houtman merupakan kosa kata umum yang digunakan dalam perniagaan. Kamus Melayu de Houtman ini telah disusun dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Magister Gothard Arthus dan diterbitkan di Cologne, Jerman, pada tahun 1608 (Harun Aminurrasyid, 1966:126). Karya tersebut kemudian disusun kembali oleh Albert Ruyl yang dicetak dengan judul Spieghel van de Malaysche Tale (Mirror of the Malay Language). Disusul oleh Agustine Spalding yang menerjemhakannya ke dalam bahasa Inggris (Teeuw, 1961: 14). Hingga tahun 1673, kamus de Houtman mengalami pencetakan kembali.
Meskipun tidak begitu banyak sumber yang menyebutkan perjalan hidup Frederick, terbukti bahwa pelantikannya sebagai Gubernur Ambon yang terjadi pada tahun 1605 dan pengankatannya sebagai staf ahli Hindia Belanda timur pada tahun 1619 hingga 1623 adalah hasil kejayaan kamus Melayu-Belanda tersebut. Setelah beliau meninggal dunia pada tahun 1627, karya lainnya yang berjudul Dictionarium ofte Woord -en Spraeckboek in de Maleysche Tale… op Nieuw Vermeerdert diterbitkan pada tahun 1680 di Amsterdam.
Nia Deliana | Kandidat master sosio-linguistik Universitas Teknologi Malaysia, Skudai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar