Kamis, 15 September 2011

FENOMENA WARKOP DI ACEH

Ada sebuah fenomena baru di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar pasca tsunami yang patut mendapat perhatian. Fenomena yang dimaksudkan ini adalah kehadiran warung kopi (untuk selanjutnya disingkat dengan warkop) dalam jumlah yang sangat banyak laksana tumbuhnya jamur di musim hujan. Tidak tanggung-tanggung, beberapa warkop baru-baru ini dibangun dengan area yang sangat luas dan memiliki kapasitas pengunjung 4 kali lipat atau lebih dari warkop biasanya. Entah faktor apa yang merangsang pertumbuhan warkop ini, hal ini perlu penelitian lebih jauh.
Kopi Ulee Kareng
Dulu sebelum tsunami, warkop yang paling terkenal dan banyak dikunjungi oleh pelanggan ada di salah satu titik di wilayah Ulee Kareng. Saya tidak tau secara pasti mengapa orang Aceh sanggup menghabiskan waktu berjam-jam hanya sekedar untuk ngopi di situ. Mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan warkop ini ramai dikunjungi pelanggan. Pertama, aroma dan rasanya yang berbeda dengan kopi-kopi di warkop biasa lainnya. Bahkan dengan ciri khas yang satu ini, maka di Aceh istilah “kopi Ulee Kareng” sudah sangat popular dalam kalangan masyarakat dan rata-rata orang yang baru datang ke Aceh pasti penasaran dengan kopi ini dan mau tidak mau harus merasakannya. Kedua, tempatnya sangat luas sehingga kapasitasnya bisa menampung banyak orang. Ketiga, tempatnya sangat strategis yang bisa membuat pelanggan menyaksikan hiruk pikuk keramaian manusia. Kemungkinan faktor-faktor ini hanya menurut perkiraan dari pribadi saya sendiri dan ianya bisa jadi salah atau benar karena penilaiannya sangat subjektif.

Setelah warkop di Ulee kareng ini sudah sangat terkenal, tidak lama kemudian muncul lagi warkop di titik wilayah jantung ibu kota Banda Aceh lainya seperti dikawasan depan Mesjid Raya Baiturrahman. Kondisinya juga sama persis dengan warkop pertama tadi di Ulee Kareng. Pelanggannya cukup banyak bahkan mengakibatkan sedikit gangguan lalu lintas karena kenderaan para pelanggan memadati bagian badan jalan raya.

Fenomena Baru
Itu gambaran sebelum tsunami. Dan setelah musibah tsunami berlalu, banyak warkop besar yang muncul dengan mengadopsi gaya dan tipe warkop di Ulee Kareng. Sekarang warkop besar itu sudah ada di kawasan Rukoh Darussalam, berdekatan dengan kampus IAIN Ar-Raniry dan UNSYIAH. Dan baru-baru ini (dalam bulan januari) juga sudah di buka di wilayah Lamnyong. Bahkan di saat hari pertama buka ada hal yang istimewa dan sangat menghebohkan yaitu suasananya sangat meriah yang dihiasi dengan ucapan selamat dari papan bunga yang dipajang sampai berhari-hari. Mungkin suasananya tak jauh beda dengan launching sebuah perusahaan baru yang mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Besar kemungkinan di beberapa tempat lain yang belum sempat saya jelajahi, juga sudah di buka warkop seperti itu.

Nah, sebenarnya permasalahan apa yang menarik untuk dibicarakan dalam fenomena baru ini? Setidaknya ada beberapa pertanyaan menyangkut munculnya fenomena warkop di Banda Aceh dan Aceh Besar secara khusus dan di wilayah Aceh lainnya secara umum. Diantaranya adalah : pertama, mengapa masyarakat Aceh suka nongkrong di warkop? Kedua, aktifitas apa saja yang dilakukan oleh pelanggan di dalam warkop tersebut? Ketiga, mengapa jumlah warkop baik dalam kapasitas yang mega besar maupun yang biasa-biasa saja di Aceh - secara umum - sangat banyak? Keempat, apakah kehadiran banyak warkop ikut mempengaruhi gaya kehidupan masyarakat Aceh? Kelima, apakah fenomena ini bisa dikategorikan sebagai bagian dari karakter atau budaya orang Aceh?

Untuk menjawab seluruh pertanyaan ini, saya rasa perlu pembahasan secara panjang lebar karena banyak hal yang terungkap dari situ. Namun di dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menfokuskan pada aktifitas apa saja yang terjadi di dalam warkop – khususnya warkop besar – yang terdapat di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar serta apa pengaruhnya terhadap kualitas kerja masyarakat setempat.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi – sekali lagi mungkin penilaian ini sangat subjektif – bahwa para pelanggan yang datang ke warkop ini hanya ikut trend saja tanpa memperoleh manfaat yang besar setelah itu. Hal ini disebabkan karena mereka yang datang ke situ hanya ingin menikmati secangkir kopi dan menghisap rokok berbungkus-bungkus sambil berbicara tanpa arah dan tujuan yang pasti. Saya berani mengatakan hal ini karena, kalau para pelanggan berdalih bahwa mereka ingin memecahkan sebuah permasalahan dengan cara berdiskusi di tempat yang rileks atau mereka ingin sekedar istirahat setelah lelah bekerja, maka alasan ini sangat tidak tepat. Mana mungkin mau berdiskusi atau sharing ide di tengah hiruk pikuk keramaian suara manusia? Jangankan untuk mengeluarkan ide-ide yang brilliant, untuk berbicara normal seperti biasa saja susah karena di tengah – tengah keramaian seperti itu, kita harus mengangkat volume suara seperti orang berteriak, kalau tidak demikian maka suara kita nyaris tenggelam di dalam lautan kebisingan suara manusia lain dan tidak bisa di dengar oleh lawan bicara kita. Kemudian lagi, kalau mereka berdalih ingin istirahat sambil mencari angin segar setelah lelah bekerja, justru ini bukan tempat yang cocok. Karena tidak akan mungkin tujuan tersebut tercapai, sedangkan suasana di dalam warkop itu penuh dengan kepulan asap rokok. Kalau di lihat dari kejauhan, mungkin asap rokok itu mirip kabut tebal yang membuat orang susah  untuk bernafas dan memamandang ke depan. Bukan malah perasaan lega yang di dapat setelah itu, akan tetapi justru sebaliknya, pikiran bertambah kacau dan badan pun semakin lelah karena udara di sana tidak bersih akibat sudah tercemari oleh polusi  asap rokok.

Intinya nongkrong di warkop menurut penilaian saya tidak banyak membawa faedah. Mereka yang datang ke situ hanya ikut-ikutan saja karena memang sudah ngetren begitu dan ingin mencari sensasi yang beda. Bahkan dianggap kurang gaul kalau seandainya ada orang yang tidak pernah nongkrong di situ. Tapi justru menurut pandangan saya nongkrong di situ lebih banyak mendapat nilai negatifnya daripada nilai positifnya berdasarkan suasana yang telah digambarkan tadi di atas.

Efek Negatif dari Sebuah Fenomena
Adapun efek negatif yang di dapat dari sebuah fenomena baru ini adalah, pertama : mubazir waktu. Menghabiskan waktu berjam-jam di warkop hanya untuk minum kopi dan merokok, akan membuang waktu tanpa menghasilkan hal-hal yang positif. Yang anehnya lagi, ada sebagian orang yang memang sudah kecanduan kopi, akan berulang-ulang datang ke warkop itu, mungkin dalam sehari bisa mencapai 3 atau 4 kali. Kedua: bisa menyebabkan seseorang lalai akan tugas dan tanggung jawab. Biasanya ini dilakukan oleh PNS di kantor-kantor pemerintah. Banyak di antara mereka yang bolos dari jam dinas untuk bersantai santai di warkop, padahal tugas dan tanggungjawab sebagai pelayan masyarakat terabaikan. Untung saja Gubernur Aceh sekarang Irwandi Yusuf adalah seorang pribadi yang disiplin, makanya dia sering melakukan SIDAK ke lapangan dan banyak mendapatkan para pegawai lagi bolos dari tugasnya di saat jam dinas untuk selanjutnya dia berikan sanksi. Ketiga, bagi mereka yang tidak merokok, maka kepulan asap rokok itu akan beresiko tinggi terhadap kesehatannya. Karena sebenarnya, perokok pasif itu lebih berbahaya daripada perokok aktif. Keempat, terciptanya budaya santai. Diakui atau tidak bahwa watak orang Aceh secara umumnya sudah terpola dengan budaya santai. Hal ini dapat kita lihat dari kehidupan sehari-hari. Berapa lama kita pernah menghabiskan waktu di warkop? Dan kalau dibandingkan dengan waktu untuk membaca, menulis atau beraktifitas positif lainnya, manakah yang lebih lama waktu tersita? Untuk membaca sebuah buku rasanya satu jam begitu lama berlalu, akan tetapi untuk duduk nongkrong di warkop sepanjang hari tiada terasa waktu berjalan. Oleh karena itu, semakin banyak tumbuh warkop maka semakin banyak pula peluang bagi masyarakat Aceh untuk bersantai. Dan secara otomatis budaya santai ini akan mempengaruhi minimnya kualitas kerja seseorang karena kepribadiannya sudah terpola dengan kondisi rileks dan jauh dari nuansa kompetensi positif.  Beginilah realita yang kita dapatkan di Aceh dewasa ini secara keseluruhan.

Fenomena tumbuhnya warkop-warkop mega di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar patut mendapat perhatian dari semua pihak. Bukan karena ingin menghalang orang lain untuk mengembangkan usaha bisnisnya, akan tetapi ini erat kaitannya dengan pembentukan pola hidup masyarakat Aceh dengan budaya santai. Alangkah lebih baiknya kehadiran warkop-warkop mega itu disulap menjadi toko-toko buku besar sebagai tempat masyarakat mencerdaskan dirinya dengan meng update buku, majalah, journal serta informasi penting lainnya setiap saat. Semoga saja pada suatu hari nanti, kehadiran toko buku di Aceh akan dapat menyaingi warkop [] 
Zulhelmi, SS. MHSc. ALIS | Alumni program pasca sarjana di International Islamic University Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur. Saat ini sedang berdomisili di Aceh Besar.

1 komentar:

  1. Terima kasih pak Zulhelmi atas tulisannya yang bermanfaat. Ada beberapa poin yang saya setuju dengan bapak (atau mungkin semua).

    BalasHapus